
Senin, 16 Januari 2012 12:42 | Oleh : Mung Pujanarko
KOPI - Kegiatan jurnalisme warga patut disyukuri telah berkembang secara siginifikan ke arah lebih luas dalam skala dan lebih membaik, dalam kualitas yang tentu saja berproses menjadi bentuk pelaporan yang lebih baik. Persatuan Pewarta Warga Indonesia adalah sebuah wadah bagi Citizen Journalist di seluruh Indonesia bahkan warga Indonesia di berbagai belahan Dunia manapun, -maupun nantinya ada yang boleh pakai bahasa Inggris jika mau menulisnya-, dari belahan manapun di Dunia ini.
PPWI sedang megembangkan apa yang dinamakan simpul-simpul Pewarta Warga, simpul-simpul pewarta artinya adalah seorang atau lebih pewarta warga yang telah memiilki kemampuan dan kemauan menulis, memotret, membuat auvi, dalam bentuk pelaporan yang cukup baik. Kemauan serta kemampuan menulis ini dalam lingkup Jurnalisme Warga tentu sedikit berbeda dengan skill dalam lingkup jurnalisme konvensional reguler. Dalam Jurnalisme warga, skill menulis-skill mewartakan adalah berproses, bergulir ke arah yang lebih baik. Sementara dalam jalur jurnalisme reguler, skill berkomunikasi telah sampai ada taraf tuntutan yang lebih mapan.
Tidak menjadi masalah bagi pewarta warga yang merasa masih kurang dapat menulis dan mewarta.
Ada sobat pewarta warga yang bertanya: “Saya ingin menuliskan sebuah kasus polusi tambang di daerah saya, tapi saya tak tahu macam mana hendak menulisnya , repotlah, ” tutur sobat dari sebuah daerah di Kaliamantan.
Untuknya, sarannya adalah agar mulailah dulu seperti bertutur, karena tak mungkin juga memberikan pelatihan penulisan laporan secara cepat mendadak. Kepada sobat pewarta ini, jangan tergesa-gesa, mulailah dengan kata tempat dahulu untuk membuat tulisan pelaporannya, misalnya : “Di desa saya di desa A, kecamatan B , Kabupaten C, Propinsi D terjadi pencemaran limbah oleh perusahaan emas X.” Jika sudah dapat mulai bercerita dengan melalui gelombang pertama /first wave, berupa lead atau kalimat awal sebagai pembuka, maka menulis seperti berlayar tenang ke tengah lautan pengaliran ide.
Sobat pewarta tersebut, berbinar bahagia dan selanjutnya dia mengetik di laptopnya meski terbata-bata mengetiknya namun, dengan mulai dengan penceritaan (bukan pencitraan) menulis dengan mulai dari kata tempat “Di” yang sederhana ini dia mampu menceritakan kronologis pencemaran tambang emas itu. Baginya tak penting dulu teori penulisan yang advance, tapi bisa menulis peristiwa itu secara runut adalah sebuah kelegaan yang tiada tara. Dia tidak perlu repot menelepon kawan media lokal konvensional untuk memuat berita keluhan warga kampungnya akan pencemaran limbah. Bahkan untuk mensegerakan meluasnya berita, sobat pewarta tadi berencana meng-email tulisannya pada setiap kawan wartawan reguler yang dikenalnya agar mengetahui peristiwa di daerahnya yang tergolong terpencil itu.
Sebenarnya pemerintah melalui misalnya saja Kementrian Daerah Tertinggal dapat bersama PPWI untuk lebih mengaktifkan kegatan jurnalisme warga ini. Untuk apa ? ya untuk percepatan pembangunan daerah tertinggal.
Kementrian Daerah Tertinggal misalnya saja memiliki sumber daya sarana dan prasarana hingga ke daerah-daerah terpencil, maka bersama PPWI bisa sama-sama mengembangkan simpul-simpul pewarta warga. Pewarta warga yang tinggal di kawasan tertinggal dijaring, diseleksi, untuk dibentuk simpul, difasilitasi skill komunikasi, dan PPWI memberikan wahana berupa media citizen jurnalisme dan wahana penting keorganisasian secara Nasional yang memayungi kegiatan pelaporan oleh pewarta itu.
Tentu saja simpul pewarta ini adalah bersifat jurnalisme warga artinya warga yang terpilih tersebut telah mengerti bahwa dia bisa melaporkan apa saja kegiatan komunitas di daerahnya yang terpencil, dengan training kit yang PPWI berikan.
Tujuan dari kerjasama antara Negara dan NGO (non governmental organization) seperti PPWI ini dalah untuk kemajuan nasional, bukan kedaerahan.
Memang terasa sulit untuk diwujudkan, karena banyak kendala berupa sarana dan prasarana, tapi sulit bukan berarti tidak mungkin. Mungkin bila dilaksanakan di kawasan-kawasan tertinggal sebagian yang berupa percontohan.
Kinerja jaringan organisasi PPWI mungkin bebeda dengan cara kerja situs web Kementrian. Kami pewarta warga Indonesia melakukanya dengan satu ideologis, bahwa menceritakan, mewartakan sesuatu yang terjadi, adalah kegembiraan, adalah sebuah kegiatan yang pasti dilakukan orang karena dorongan naluriah manusia untuk bercerita dan berkomunikasi, entah dibayar ataupun tidak, adalah bersifat asasi manusia.
Dibayar atau tidak, orang toh pasti menulis atau mengomunikasikan sesuatu, baik verbal dan non verbal. Paradigma bahwa menulis harus dibayar mungkin ada pada era tahun 1970-an sampai akhir 1990-an, saat media jumlahnya sedikit dan orang berlomba menaikkan tulisan artikelnya di media massa agar dibayar dan agar terkenal. Sekarang kalau kita memang ingin menulis sebuah pengalaman kita, warta kita, tak perlu menunggu sampai kita dibayar, apalagi menunggu agar kita terkenal (famous).
Tulis saja dorongan hati anda untuk menuliskannya. Bila mampu buat saja videonya, dan unggah di situs PPWI. Asyik saja menceritakannya kepada orang lain.
Paradigma ilmu menulis nantinya akan berubah, bahwa orang-orang yang tinggal di daerah terpencil pasti akan menuliskan apa yang terjadi di daerahnya,dengan satu atau lain jalan, dan warta dari pewarta warga di daerah tertinggal ini nantinya akan sampai pula di berbagai media situs web. PPWI telah ikut mempelopori kegiatan jurnalisme warga. Dan ada baiknya jika nantinya simpul pewarta warga secara organisasional ini bisa terbentuk di setiap RT/RW, artinya ada orang di kawasan lingkungan yang mampu dan mau berperan sebagai pewarta warga, demi kemajuan Bangsa. (*)
Oleh : Mung Pujanarko, pelaku thesis (2009 81 0005) di IISIP Jakarta.
Sumber: www.pewarta-indonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar